Xabi Alonso Tinggalkan Real Madrid Setelah Tujuh Bulan Penuh Gejolak
Perjalanan Xabi Alonso sebagai pelatih Real Madrid berakhir lebih cepat dari yang banyak orang bayangkan. Hanya tujuh bulan setelah mengambil alih kursi pelatih utama, legenda Los Blancos itu resmi berpisah dengan klub.
Keputusan ini diumumkan oleh manajemen klub sebagai hasil kesepakatan bersama, yang mencerminkan periode penuh tantangan dan tekanan sejak musim bergulir.
Real Madrid kemudian menunjuk Álvaro Arbeloa, mantan pemain klub, untuk sementara mengambil alih posisi tersebut setelah gelaran Supercopa de España berakhir dengan kekalahan Los Blancos.
Era Baru Dimulai dengan Ekspektasi Tinggi
Kedatangan Xabi Alonso di Real Madrid pada musim panas 2025 disambut antusias oleh suporter dan media. Usai sukses besar bersama Bayer Leverkusen, di mana ia memimpin tim meraih gelar Bundesliga dan Piala Jerman tanpa satu kekalahan pun, banyak yang percaya ia akan mengembalikan kejayaan Los Blancos yang sempat menurun.
Ia ditunjuk dengan kontrak tiga tahun dan dianggap sebagai figur ideal untuk menggabungkan identitas klub dan visi sepak bola modern.
Alonso pun menyatakan ambisinya untuk membawa Real Madrid ke arah yang lebih progresif sambil menghormati tradisi klub. Ia berbicara tentang semangat Madrid yang kuat dan fokus pada pembangunan tim menuju prestasi baru. Namun, seiring berjalannya waktu, hal-hal tidak berjalan mulus seperti yang dulu dibayangkan.Terobosan Awal dan Masalah Kinerja
Awal musim tampak positif. Real Madrid sempat menunjukkan performa kuat di LaLiga, mencetak serangkaian kemenangan dan bahkan mengalahkan rival klasik mereka, Barcelona, dalam pertandingan penting.
Namun, di luar beberapa kemenangan besar ini, konsistensi permainan sering kurang memuaskan. Statistik menunjukkan tren naik turun yang bikin banyak pihak mempertanyakan arah taktis tim.
Situasi ini diperparah dengan beberapa hasil buruk dalam kompetisi besar seperti Liga Champions dan laga domestik lainnya. Tekanan publik pun meningkat, terutama ketika Real Madrid gagal mempertahankan performa stabil di liga dan kompetisi internasional.
Di tengah situasi ini, Alonso mencoba menanamkan gaya bermain yang lebih disiplin sambil melakukan rotasi pemain yang tegas, menyampaikan pesan bahwa tak ada status “aman” di tim tanpa kerja keras.
Friksi Internal dan Tantangan Kepemimpinan
Selain masalah di lapangan, isu dalam ruang ganti ikut mewarnai perjalanan Alonso. Beredar laporan bahwa hubungan antara pelatih dan beberapa pemain skuad inti tidak selalu harmonis.
Ketidakcocokan gaya taktis serta keputusan tertentu dalam rotasi pemain membuat beberapa figur tim mengalami ketegangan. Ini sempat memicu komentar dari dalam klub sendiri soal kebutuhan untuk evaluasi bersama dan bahkan kritik soal kepemimpinan.
Ekspektasi tinggi di Real Madrid membuat semua elemen tim berada di sorotan. Ketika hasil mulai tidak konsisten dan sinyal internal menunjukkan adanya ketegangan, tekanan terhadap Alonso pun meningkat tajam.
Beberapa pengamat menyebut bahwa tantangan terbesar bukan hanya soal taktik, tetapi soal bagaimana mengelola ego dan dinamika ruang ganti yang penuh pemain bintang. Walau demikian, pihak klub tetap berusaha mendukung proses adaptasi tim di awal periode musim.
Kekalahan di Final Supercopa Jadi Titik Balik
Momen yang akhirnya mempercepat pengumuman perpisahan datang setelah kekalahan Real Madrid 3-2 dari Barcelona di final Supercopa de España. Hasil ini dianggap sebagai cerminan dari masalah yang lebih besar di musim ini, di mana performa tim kerap naik turun dan ketegangan internal tidak sepenuhnya teratasi.
Tak lama setelah pertandingan, Real Madrid mengonfirmasi bahwa Alonso akan meninggalkan kursi pelatih utama atas dasar kesepakatan bersama.
Dalam pernyataannya, pihak klub mengungkapkan rasa terima kasih kepada Alonso atas dedikasinya dan menegaskan bahwa ia akan tetap menjadi bagian dari keluarga besar Real Madrid, terutama sebagai legenda yang pernah bersinar sebagai pemain.
Keputusan ini juga menunjukkan bagaimana Real Madrid melihat pentingnya menjaga stabilitas dan arah tim di era kompetisi yang sangat kompetitif.
Arbeloa Ambil Alih dan Tantangan ke Depan
Sebagai pengganti sementara, Real Madrid memilih Álvaro Arbeloa, yang sebelumnya menangani tim kasta kedua klub. Arbeloa bukan sosok asing di Bernabéu, karena ia juga dikenal sebagai mantan pemain yang pernah berkiprah bersama tim dan membawa berbagai gelar.
Penunjukan ini memberikan transisi yang cepat dan penting untuk menjaga kesinambungan musim yang masih berlangsung.
Kisah singkat kepelatihan Alonso di Real Madrid menjadi pelajaran tentang betapa kompleksnya menggabungkan ambisi besar, tekanan publik, dan dinamika internal tim di klub papan atas sepak bola dunia.
Perjalanan ini mungkin singkat, tetapi meninggalkan bekas yang membekas dalam diskusi klub dan penggemar. Bagaimana Real Madrid menatap sisa musim dan strategi baru di era pasca-Alonso tentu akan jadi fokus utama di bulan-bulan mendatang.

Tidak ada komentar: